Rendah Hati (Tawadhu')



Akhlak yang di praktikan oleh Nabi semuanya bersumber dari Al-Qur’an. Dalam firman Allah Qs. Al- A’raf:146   
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya”

     Tawadhu’ dan Sombong
Tawadhu’ merupakan sikap rendah hati, namun tidak sampai merendahkan kehormatan diri dan tidak memberi peluang orang lain untuk melecehkan kemulian diri. Sedangkan sombong merupakan sikap merasa lebih unggul atau lebih mulia dibandingkan dengan yang lain.
Dalam kitab Tahdzib al-Akhlak , Ibnu Maskawaih berkata,”Orang- orang yang pandai dan terhormat seharusnya terhindar dari sifat takabur dan bangga terhadap diri sendiri. Ada sebuah kisah seorang penguasa berbangga diri di hadapan seorang hamba sahaya yang pandai. Melihat hal ini, hamba sahaya tersebut berkata “Bila kamu berbangga diri kepadaku atas kuda yang kamu miliki, maka keistimewaan yang engkau banggakan adalah milik kuda bukan milikmu. Bila kamu berbangga diri karena bajumu, maka yang bagus adalah bajumu, bukan dirimu, dan bila kamu membanggakan diri karena kehormatan nenek moyangmu, maka kehormatan itu adalah milik mereka bukan milikmu”.

          Larangan Sombong dalam Al – Qur’an
Al-Qur’an melarang manusia bersikap sombong dan sangat mengajurkan mereka untuk bersikap rendah hati. Dalam Firman Allah

Qs. Al – Isra’ : 37 – 38
    
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatannya Amat dibenci di sisi Tuhanmu”

Qs. An- Nahl : 22 – 23

“Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong”.

Qs. Al - Mu’min : 33
  
“Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: "(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, Dia Makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum”

Kisah Iblis yang sombong hingga enggan memberikan penghormatan keapada Nabi Adam.

Qs. Al – Hijr : 28 – 35.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah Para Malaikat itu semuanya bersama-sama, Kecuali iblis. ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?" Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk". Allah berfirman: "Keluarlah dari surga, karena Sesungguhnya kamu terkutuk. Dan Sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat".

Qs.Shaad : 75 – 76
Allah berfirman: "Hai iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) Termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Dia Engkau ciptakan dari tanah".

Qs. Al – Israa’ : 64
“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka”.

       Ketawadhu’an Rasulullah
Di antara contoh ketawadhu’an Rasul yaitu :
1.    Beliau mau mengendarai hewan apapun. Kadang beliau mengendarai kuda, unta atau himar. Bahkan beliau kadang berjalan kaki dengan tanpa alas kaki, tanpa rida’, dan tanpa tutup kepala.
2.    Rasulullah SAW. Sering mempersilahkan hamba sahay atau sahabatnya membonceng di belakangnya. Beliau pernah memboncengkan Usmah bin Zaid dari Arafah, al – Fadhl bin Abbas dari Mudzalifah sahabat – sahabat yang lainnya.
3.    Rasulullah SAW, selalu menerima pemberian seseorang dengan senang hati meskipun hanya seteguk air susu atau sepotong paha kelinci dan setelahnya mengucapkan terima kasih serta mendoakan orang yang memberi, beliau memakan pemberian itu dengan senang. Namun beliau sama sekali tidak mau memakan pemberian sedekah.
4.    Rasulullah SAW selalu memenuhi undangan orang yang mengundangnya baik itu orang merdeka, budak, orang berkulit hitam atau putih. Beliau tidak pernah risi di undang oleh orang – orang miskin.
5.    Rasulullah SAW tidak suka bila sahabatnya berdiri di saat menyambut kedatangannya.
6.    Rasulullah SAW mempunyai baju yang ditambal karena sobek, dan beliau kadang memakainya. Rasulullah bersabda “Saya hanyalah seorang hamba, saya memakai pakaian sebagaimana yang di pakai oleh seorang hamba”.
     Tawadhu dan menjaga kemulian diri Khadijah bin Khuwailid r.a
Khadijah merupakan wanita Arab yang di anugerahi Allah SWT dengan harta yang melimpah dan penuh berkah. Khadijah sangat sabar mengarungi kehidupan bersama Rasulullah saw. Kesabarannya merupakan kerendahan hati seorang wanita kaya dan terhormat. Khadijah lebh memilih berlapar – lapar dan menghadapi kesulitan bersama bani Abdul – Muthalib dan Nabi Muhammad saw. Ini menunjukkan kerendahan hatinya dan juga keikhlasannya untuk berkorban jiwa dan harta kekayaannya.

Kesombongan adalah tidak mau tahu dengan kebenaran dan menganggap rendah orang lain
Sikap Tawadhu’ akan menambah seseorang semakin tinggi derajatnya. Berendah hatilah kalian maka Allah akan mengangkat derajat kalian


Referensi : Abdul Mun;im al - Hasyim .2009. Akhlak Rasul menurut Bukhari dan Muslim. Jakarta : Gema Insani


Komentar