Perjuangan anak pembantu
PERJUANGAN
Oleh: Mulyaningsih (G74120034)
Perjuangan kelahiran hidupku oleh sang ibuku sangat besar banget. Dulu aku tidak pernah dianggap sebagai anak oleh bapakku sejak lahir. Bapakku selalu bilang “Kasihkan orang saja kalau sudah lahir, kalau tidak gugurin saja”. Namun ibuku selalu bertetapan hati untuk mempertahankan janin diriku untuk hidup. Ibuku datang ke tabib katanya janin diriku tidak akan bertahan lama hanya bertahan 3 bulan saja. Akhirnya janin itu diberi kekuatan doa. Waktu bulan ketiga ibuku datang ke tabib itu lagi dan janin masih ada dalam kandungan. Ibuku sangat bersyukur sekali. Ibuku berfikir bagaimana dengan biaya pesalinan ini. Akhirnya ibuku berkerja dirumah tetangga sebagai pembantu. Uang dari pekerjaan itu dikumpulkan biaya persalianan nanti. Pada kandungan bulan ke 8 kurang 10 hari, ibuku jatuh dari tangga dan banyak pendaharan. Dan langsung ibuku dibawa ke bidan terdekat dan aku lahirlah diriku pada saat itu. Sesampai dirumah bapakku marah-marah dan meminta ibuku untuk menjual bayi ke orang lain. Akhirnya ibuku mau menjual diriku ke orang lain. Orang yang mau membeli aku adalah orang Bandung. Namun, karena bencana dari Allah bahwa Bandung banjir yang hebat dan aku tidak jadi dijual. Ibuku berfikir kalau ini semua jawaban dari Allah SWT untuk mempertahankan bayi ini. Ketika ibuku mencuci pakaian, aku selalu digendong olehnya. Kemanapun Ibuku pergi aku selalu dibawa. Dulu waktu aku kecil, kakak-kakakku tidak pernah menganggap aku ada ditengah-tengah mereka. Namun, ibuku selalu sabar menghadapi semua ini. Namun, sejak berjalanannya waktu, akhirnya bapak dan semua kakakku menerima kehadiran diriku walaupun sih belum sepenuhnya. Aku tunjukkan semua itu dengan prestasi-prestasi ku.
Ketika aku masuk SMA sebenarnya aku tidak berharap untuk bisa masuk SMA. Aku ingin masuk ke SMK saja. Ternyata aku di takdirkan untuk masuk di SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan di Pekalongan. Disana adalah awal dari sebuah perjuanganku. Sejak aku kelas tiga aku bingung, kalau aku berhenti sampai disini belajarnya. Gimana kehidupanku selanjutnya. Mau kuliah tidak mungkin. Uang dari mana buat kuliah. pikiran itu selalu terbayang didalam otakku. Pada saat hari raya idul fitri aku dapat uang dari kekerabatku. Uang itu aku kumpulin untuk biaya kuliah walaupun uang itu tidak mungkin mencukupi untuk kuliah nantinya. Di sekolah membuka jalur undangan untuk kuliah dan aku dapat jalur undangan tersebut. Aku bingung mau ambil atau tidak jalur undangan tersebut. Aku pun bilang sama orang tuaku, ibuku bilang :”Lebih baik kamu kerja saja, cari uang untuk makan dan jajan, banyak lulusan S1 yang pengangguran” . Namun, aku bilang sama ibukku, “Kalau ada niat pasti ada jalan”. Akhirnya aku daftar jalur Undangan terebut. Dulu aku tidak tahu kalau ada Bidik Misi. Aku Tanya salah satu guru, “Apakah aku bisa masuk bidi misi atau tidak?”. Dan kata guruku “Bapakmu pensiunan mana bisa?? Lagian kalau kamu masuk IPB uang awalannya sesuai dengan gaji orang tua??” . Aku pun cerita sama guru agamaku. Dia menyuruh aku untuk mencoba bidik misi tersebut. Guru agama ku tersebut yang menyuruh aku untuk daftar ke IPB. Padahal awalnya aku ingin kuliah di Jawa Tengah saja. Akhirnya aku mendaftar di IPB dan UNNES. Guru Agama ku berpesan kepada ku “Lakukanlah pembaharuan kehidupan didalam Keluargamu, pembaharuan darimu pasti akan merubah semua kehidupan keluargamu. Janganlah kamu berputus asa, karena Allah tidak suka dengan orang yang berputus asa. Ibu ku bilang “Gimana dengan biaya nantinya kita tidak ada uang sama sekali untuk biaya kuliahnya, makan saja susah, hutang saja masih banyak”. Aku pun juga berjanji sama ibuku “Kalau jalur undangan aku diterima aku akan ambil mungkin itu sudah jalan Allah untuk aku, namun jika tidak diterima jalur undangan tersebut aku akan kerja saja”. Dan saat pengumuman jalur undangan bertepatan dengan pengumuman UN lagi. Pada Sabtu, 26 Juni 2012 merupakan hari bersejarah yang menyenangkan bagiku. Aku lulus UN dan aku juga diterima Di IPB. Aku sungguh tidak percaya dengan semua ini. Namun, ini kenyataannya, aku langsung mengabari semua kakakku. Dan semua kakakku senang mendengar hal tersebut.
Saat registrasi ulang tersebut aku diantar sama kakakku naik mobil punya perusahaan kakakku. Padahal aku ingin ikut dengan rombongan OMDA untuk berangkatnya dan ingin mengajak Bapakku. Namun, Ibu ku meminta aku untuk mengikuti kemauan kakakku untuk mengantarkan aku. Kata ibuku, mungkin kakak ingin senang sekali aku diterima di IPB dan dia ingin sekali mengantar diriku. Dan pada hari itu juga kakaku sudah bilang mau cuti pada hari selasa setelah aku bener-bener diterima di IPB. Pada hari Selasa 12 Juni 2012, Aku harus bangun pagi jam 4 untuk siap-siap untuk ke Bogornya. Perjalanan Bekasi-Bogor memerlukan waktu 2 jam. Dalam perjalanan Bekasi-Bogor ada sebuah kejadian yang tidak menduga, mobil yang kita kendarai ditambrak oleh sebuah mobil. Alhamdulillah mobil kita tidak apa-apa Cuma bagian depan tergores saja. Padahal mobil itu milik perusahaan kakak saya.
Pada hari Selasa tersebut aku registrasi dan wawancara bidik misi. Dengan setia nya kakakku menunggu sampai aku selesai wawancara sampai Sore dalam keadaan lapar belum makan dari tadi pagi. Aku langsung diantar kakakku menuju kos-kosan kakak kelasku. Dan aku pun ditinggal oleh kakakku, karena esok hari kakakku harus bekerja. Aku iri dengan teman-teman ku, mereka datang kesini dengan orang tua mereka, sedangkan aku sebatang kara disini sendirian, yang hanya numpang tidur dirumah kakak kelaskku, karena besok hari ada acara di GWW. Cobaan pun datang lagi kepada ku, pada tanggal 13 sore pengumuman siapa saja yang mendapatkan bidik misi, aku sangat syok sekali karena bidik misi ku ditolak. Aku pun mulai putus asa dengan semua hal ini. Aku pun berpikir untuk menelpon kakakku namun, ku takut menambah beban kakakku. Akhirnya, aku pulang ke kos-kosan kakak kelasku. Sejujurnya aku sedih sekali, aku ingin sekali ingin menangis sekencang-kencangnya. Pada hari itu juga teman-temen mau pada pulang, aku tidak ikutan pulang karena aku harus pulang dulu kerumah kakakku di Bekasi. Aku bener-bener iri kepada mereka, aku ingin mencurahkan isi hatiku kepada Ibu ku. Namun, Ibu ku tidak ada disampingku, aku hanya menangis didalam hatiku. Ada ibu teman aku, meluapkan kebanggaannya karena anaknya diterima bidik misi kepada semua orang. Didalam Hati ku, Gimana dengan perasaan ibu aku, apakah aku mengecewakan ibu ku. Aku hanya bisa menangis dalam hati walaupun dihadapan orang-orang aku selalu tersenyum. Aku bingung apa yang harus ku katakan sama kakakku esok harinya. Setelah aku shalat maghrib, kata kakak kelas ku ada sesi lagi untuk wawancara bidik misi dengan Bu Mega di GWW. Aku pun langsung kesana sendirian malam-malam ke GWW dengan suasana takut, “Apakah perjuangan ku akan sia-sia lagi”. Setelah sampai sana ada yang bilang tidak ada wawancara lagi. Aku pun mulai putus asa dan kembali pulang ke kos-kosan kakak kelasku, namun aku harus semangat. Dan ketika ada seorang kakak kelasku menelpon dengan kondisi Batraiku yang mau low bat. Namun, alhamdulillahnya batrai itu habis ketika aku sudah ketemu dengan kakak kelasku itu. Aku pun langsung masuk ke GWW. Akupun bertemu dengan Bu Mega, Pak Rimbawan, Kak riko dan kakak yang lain. Dan aku harus kembali lagi ke rumah Kakak kelasku untuk mengambil selebaran kertas yang warna kuning lagi dirumah kakak kelasku. Setelah sampai ke kos-kosan kakak kelas aku langsung membawa barang-barangku. Karena aku mau diajak kakak kelas ke asrama. Dengan tas yang berat dan keadaan lapar, aku pun tetap semangat untuk ke GWW. Setelah sampai ke GWW, anak-anak yang pada malam itu datang ke sana harus menulis sebuah karangan tentang kehidupan mereka dan harus dikumpulin besok di ditmawa. Malamnya pun aku langsung mengerjakan karangan tersebut di kos-kosan kakak kelas ku, aku tidak jadi diasrama karena aku ditemani oleh kakak kelas yang lainnya. Pukul 9 malam aku bener-bener tidak ada tenaga lagi. Badanku lemas, perutku lapar, namun kakak kelasku baik hati memberikan ku makan. Aku sangat bersyukur sekali. Setelah makan aku langsung shlat Isya’ dan tidur dahulu. Kita tidur 1 kamar 3 orang dengan luas kamar setengah dari kamar di asrama. Sekitar jam 1 aku bangun dan shalat Hajat, Tahajut dan Tasbih. Aku memohon kepada Allah semoga mendapatkan kekuatan untuk mengahadapi semua percobaan ini. Dan aku berharap semoga aku mendapatkan hikmah dari semua cobaan ini. Setelah shalat aku langsung mengerjakan karangan tersebut hingga menjelang Subuh. Setelah itu aku shalat Fajar dan membaca Al-qur’an sampai menjelang Subuh. Setelah Subuh aku mandi dan mengerjakan karangan tersebut lagi. Kakak kelas yang menemani malam tersebut harus mengantarkan temenku satunya terlebih dahulu ke terminal. Sambil menunggu kedatangan kakak kelasku tersebut, aku shlat dhuha dan banyak membaca Al-qur’an. Sekitar pukul 8.30 kakak kelasku itu datang. Dan dia menyuruhku untuk makan terlebih dahulu. Sekitar pukul 9 lebih kita baru berangkat menuju Rektorat. Perjalanan itu sangat jauh sekali, dengan keadaan kaki yang sedang sakit karena tergilir. Aku tetap semangat menuju kesana. Setelah nyampai di rektorat aku pun langsung diwawancarai oleh Kak Riko, aku deg-degan sekali. Dan aku bersyukur sekali ternyata aku di terima sebagai penerima bidik misi. Aku bersyukur sekali, aku tidak menyangka dengan semua ini.
Sejak saat itu, aku senang sekali kalau di GWW karena di GWW awal perjuangan hidupku untuk mendapatkan Beasiswa Bidik misi. Setelah diumumkan aku diterima Bidik Misi nya aku langsung menelpon kakakku. Kakakku senang sekali. Sore harinya pun aku di jemput oleh kakakku dengan menggunakan mobil milik perusahaannya bersama ibuku dan keluarga kakakku. Ibu ku senang sekali mendengar hal ini. Akhirnya aku bias membuktikan ke semua orang kalau anak pembantu bisa kuliah, dan aku pun bisa menjunjung martabat keluarga ku. Akhirnya, aku pun bisa membahagiakan orang tua ku.
Saat awal-awal Martikulasi aku sering mengeluh dengan pelajaran yang diberikan. Aku tidak sanggup untuk menjalani dengan semua ini. Rasanya aku ingin sekali keluar dari IPB dan ingin memutuskan untuk kerja sama. Namun aku teringat dengan perjuangan kakakku yang mengantarkan ku ke Bogor dan perjuangan ku untuk meraih beasiswa Bidik Misi ini. Aku harus semangat untuk menjalani semua ini. Dan aku yakin kalau dibalik penderitaan ini pasti ada hikmahnya. Saat aku mengeluh aku selalu ingat perjuanganku itu, aku tidak boleh mengecewakan keluarga ku dan orang-orang yang telah berharap besar kepada ku. Aku ingin membahagiakan mereka. Aku harus bisa dan bangkit dari kemalasan ini. Aku selalu belajar malam, karena aku yakin pada malam hari malaikat selalu datang ke bumi pada malam hari bersama orang-orang yang bersujud kepada Allah. “SEMANGAT LIA UNTUK MENGGAPAI IMPIANMU UNTUK ORANG YANG KAMU SAYANG. SEMANGAT AYO SEMANGAT. BANGKITKAN CITRA KELUARGAMU” . Kata itu yang selalu ku ingat dalam hati dan aku tulis disamping tempat tidur ku agar aku selalu ingat kalau ada orang tua ku yang menunggu ku disana. “I Love you Mom and Dady”. Terima Kasih Bidik Misi telah membantu ku kuliah. Kan Ku balas semua ini dengan prestasi-prestasi ku.
Terkadang hidup memang berat, Membuat kita hampir menyerah, Tapi aku percaya Kau-lah pelindungku, Penciptaku dan hidupku, Sabarkan hatiku kuatkan imanku, Berkahi aku dan keluargaku dengan RahmatMu, Tuhan kau-lah Cinta ku.
Komentar
Posting Komentar